Wednesday, 16 January 2013

Berbahagia Menjadi Lajang



eramuslim, Bagi seorang wanita pada umumnya, melajang dalam usia matang sungguh tak nyaman. Betapa pun, menikah adalah kebutuhan fitrah setiap manusia. Tidak terpenuhinya kebutuhan ini sangat bisa jadi menjadi penyebab guncangan jiwa yang bersangkutan. Ditambah lagi budaya dan paradigma yang berkembang di masyarakat yang memojokkan wanita lajang. Perawan tua, tidak laku dan kalimat-kalimat semacamnya menjadi label bagi mereka yang belum menikah. Belum lagi tuntutan dan pertanyaan dari keluarga dan tetangga kiri-kanan tiap ketemu yang bikin sebal,” Kapan menikah?”
Bagi seorang wanita normal, keluarga dan anak-anak adalah harapan dan cita-cita. Keluarga adalah tempat mengabdi yang membawa ketenangan. Anak-anak adalah amanah yang membawa kebahagiaan. Sangat wajar, jika setiap wanita menginginkan adanya fase menikah dalam hidupnya. Tapi masalahnya, menikah tidak bisa dilaksanakan secara sepihak. Menikah membutuhkan pasangan, yang dalam situasi, kondisi dan masa tertentu tidak mudah ditemukan. Karena kriteria yang tak sepadan, karena kuantitas yang tak terpenuhi, maupun karena takdir belum menentukan. Seperti pada masa sekarang, saat wanita lajang di usia matang hampir menjadi fenomena.

Lantas bagaimana?
Bersabar, menunggu dan bertakwa kepada keputusan Allah. Itu yang banyak saya dengar, dan saya sepakati pula. Hal ini barangkali hikmah diperbolehkannya poligami oleh kaum pria, dan mungkin sudah tiba masanya. Ini pendapat lain, yang saya juga tidak menolaknya. Namun, apakah hanya itu? Saya kira masih ada alternatif lain, yang lebih progresif bukan pasif dan bisa dilakukan secara mandiri oleh seorang wanita. Saya teringat sebuah kisah tentang seorang muslimah perkasa di punggung Gunung Kidul. Wanita itu sangat aktif utamanya dalam kegiatan dakwah dan sosial.
Dengan sepeda motornya ia menjelajahi pelosok desa, mengisi kajian dan memberikan penyuluhan di kampung-kampung miskin dan desa-desa terpencil. Ia menjadi panutan, ia menjadi konsultan, ia menjadi acuan, ia menjadi tempat orang-orang lugu itu meminta nasihat.
Muslimah itu, masih lajang dalam usianya yang 35 tahun. Muslimah itu, mengasuh tiga anak yatim dengan kemampuannya sendiri. Muslimah itu, tidak kesepian karena ia punya ‘keluarga’. Wanita itu tak kehilangan fitrah kewanitaannya karena ia punya ‘anak-anak’ tempat ia mencurahkan cinta dan perhatian. Muslimah itu tidak digugat kesendiriannya karena ia menebar manfaat.
Membaca kisahnya, banyak inspirasi yang bisa diambil oleh kaum wanita, dan saya pun ingin meneladaninya. Apa yang dilakukan muslimah tersebut bisa menjadi salah satu alternatif jawaban atas problema banyaknya wanita-muslimah khususnya- berusia matang yang belum menikah. Apa yang dilakukan si muslimah perkasa, memberikan hikmah yang banyak bagi kemanusiaan.

Jika kita renungan, menjadi lajang bukanlah sebuah aib dan dukacita. Menjadi lajang membuka pintu-pintu amal dan manfaat bagi diri dan masyarakat, seperti halnya yang dilakukan si muslimah.
Seorang wanita lajang akan lebih mudah bergerak dan beraktifitas karena ia tak dibebani tugas-tugas kerumahtanggaan. Seorang wanita lajang akan bisa lebih banyak berbakti kepada masyarakat dengan modal waktu, peluang dan kemampuan yang ia miliki. Berapa banyak selama ini aktifitas sosial masyarakat yang mandeg karena ditinggal penghasungnya (yang seorang wanita) menikah? Berapa banyak aktifitas yang masih terus berkembang karena penyandangnya ‘alhamdulillah’ masih lajang dan punya waktu banyak untuk berkomitmen?
Lantas bagaimana memenuhi kebutuhan fitrah sebagai wanita? Bukankah pintu tebuka lebar juga? Lihat, betapa banyak anak-anak di dunia ini yang butuh asuhan, pendidikan dan usapan tangan lembut kaum wanita? Apalagi di Jakarta yang sedemikian tua dan menyimpan banyak problema terutama berkaitan dengan anak jalanan, anak miskin, anak yatim dan anak-anak yang kurang dalam pendidikan dan asuhan.
Dalam kesendirian dan kemandirian kaum wanita, barangkali Allah memang mengirimkan mereka untuk anak-anak tak mampu, untuk dididik, untuk diasuh. Mereka adalah anak-anak kita juga, begitu Emha Ainun Najib pernah mengatakan dalam salah satu tulisannya di buku Markesot Bertutur. Anak-anak sesungguhnya adalah anak-anak dunia, amanah dari Allah yang mesti dijaga. Sekalipun mereka tidak lahir dari rahim kita.
Saya percaya, selalu ada hikmah di balik setiap realitas yang ditetapkan Allah. Banyaknya wanita lajang pada masa sekarang, mungkin karena Allah menginginkan adanya tangan–tangan terampil, pribadi-pribadi lembut namun perkasa untuk menanggung sebagian beban dunia. Tugas itu diantaranya adalah mengasuh anak-anak yatim, anak-anak jalanan, anak-anak tetangga yang kurang perhatian dan kurang pendidikan moral. Tugas itu diantaranya adalah ikut membenahi kerusakan sosial, kemiskinan, buruknya pendidikan dan aktifitas publik lainnya yang membutuhkan komitmen waktu, kemampuan dan kemandirian seorang wanita.
Mereka butuh kita, para wanita lajang yang mandiri, yang sanggup menafkahi diri sendiri dan orang lain. Yang memiliki perhatian dan kemauan lebih untuk all out terhadap aktifitas yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh para wanita yang sudah berumahtangga. Kita bisa tetap memiliki keluarga, meski bukan karena pernikahan. Kita dapat memiliki makna, meski bukan dengan car menjadi ibu rumah tangga. Kita mampu bisa menjadi manusia seutuhnya melalui usaha kita sendiri, tanpa harus meminta pengertian semua orang, tanpa perlu menuntut dan meminta para lelaki untuk menikahi dan berpoligami. Sekarang tinggal kita tinggal memilih: Mengadopsi anak dari panti asuhan, anak jalanan, anak tetangga? Atau ikut berpartisipasi menjadi orang tua asuh, mendidik anak jalanan, anak-anak TPA, anak tetangga, keponakan, mendirikan taman bacaan? Atau bahkan ‘hanya’ sesedikit apapun, berkontribusi terhadap komunitas dan masyarakat. Mereka adalah juga ‘keluarga’ kita. (azi_75@yahoo.com, tulisan ini sama sekali bukan mendorong kaum wanita untuk melajang).

ANTARA WANITA DAN ILMU SYAR'I




Ilmu adalah segalanya. Apapun aktifitas manusia tak akan lepas dari peran ilmu. Ilmu adalah nikmat Allah yang agung. Dengan ilmu, manusia akan dapat meraih kebahagiaan di dua negeri, dunia dan akhirat. Kebahagiaan di dunia berupa keselamatan dari kesesatan dan dekat kepada petunjuk Allah. Hal ini tidak akan terwujud kecuali dengan ilmu. Kebahagiaan di akhirat berupa keselamatan dari api neraka. Hal ini pun tidak akan tercapai kecuali dengan ilmu. Hati pun akan hidup dengan cahaya ilmu dan berilmu merupakan ciri seorang yang beriman.
Bahkan tidak akan berguna suatu amal tanpa ilmu, karena ilmu merupakan imam (pemimpin) bagi amal. Pendek kata tidak ada kehidupan tanpa ilmu, tidak ada kebahagiaan tanpa ilmu dan tidak akan tenang dan damai kehidupan manusia tanpa ilmu, lalu Ilmu apakah yang dapat mewujudkan semua itu? Ilmu jenis manakah yang dapat mengantarkan manusia menuju kebahagiaan sesungguhnya? Serta sederet pertanyaan lain terbetik di setiap benak kita. Jawabannya singkat yaitu ilmu syar'i, ilmu yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, bukan ilmu yang muncul dari kepala para filosof atau dari hasil otak-atik aqlaniyun (pemuja akal) dan yang semisal mereka. Bahkan kebanyakan yang datang dari mereka tidak layak dikategorikan ilmu, melainkan ilham yang datang dari setan belaka.
Berkata Imam Syafi'i رحمه الله :
"Semua ilmu selain Al-Qur'an hanyalah menyibukkan belaka kecuali ilmu hadits dan fiqhi dalam agama, (hakikat) Ilmu adalah yang didalamnya ada perkataan "Telah disampaikan kepada saya" (Hadits) adapun selain itu maka dia hanyalah was-was syaithan" Ilmu (syar`i) adalah firman Allah, sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam dan ucapan para shahabat, bukan selain itu.
Demikian para ulama menerangkan bahwa Ilmu syar`i wajib diketahui dan dimiliki oleh setiap manusia yang mengaku dirinya muslim, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam bersabda :
( طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِ يْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ ( رواه أحمد و ابن ماجه
"Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim" (HHR. Ahmad dan Ibnu Majah) Kata-kata "Muslim" dalam hadits ini bermakna umum baik laki-laki atau perempuan, tua atau muda, tidak pandang bulu. Kita wajib bersyukur kepada Allah karena semakin maraknya majelis-majelis ta`lim, telah masuk dan menjamur di seluruh pelosok masyarakat muslimin lewat kajian-kajian rutin hal ini merupakan satu fenomena yang membesarkan hati kaum muslimin di satu sisi, namun di sisi lain terasa sangat memprihatinkan. Jika kita tengok kasus-kasus yang terjadi, khususnya yang menimpa saudari-saudari kita kaum muslimah. Ternyata bukan ilmu syar'i yang mereka bawa pulang ke rumah dan bukan bekal hidup di dunia dan akhirat yang mereka peroleh. Terbukti ketika mereka berangkat dengan kerudung penutup leher dan kepala, tetapi pulang dengan telanjang. Mereka berangkat sendiri, namun pulang diantar seorang bujang. Dan yang lebih tragis dan mengenaskan lagi --na`udzubillahi min dzalik-- mereka berangkat dengan perut kempes dan pulang dengan perut berisi bayi tanpa jelas bapaknya. Salah siapa ini? Ustadznya kah? Atau Ataukah Orang tuanya? Atau siapa? Lalu bagaimana solusinya?
Islam agama yang mulia terbebas dari sifat cela. Islam menuntut umatnya hidup mulia tanpa noda. Maka bisa dipastikan kerusakan yang terjadi di dunia pendidikan tingkat atas atau tingkat bawah, di kota atau di desa, di masjid Jami' atau di surau, atau di mana saja adalah karena mereka telah membuang dan melalaikan tuntunan Islam. Mereka mendiskreditkan Islam atau meninggalkan proses belajar mengajar ala Islam yang akan membuahkan muslimah yang tangguh dan kuat pendiriannya, tetap tegak meski topan dan badai menghantamnya.
Gejala dan fakta yang menimpa sebagian muslimah dalam mencari ilmu adalah bahwa mereka mereka menuntut ilmu hanya sekedar untuk mendapatkan ijazah, pekerjaan, atau gelar saja, padahal pengertian ilmu adalah yang sebagaimana dikatakan Imam Ibnul Qayyim رحمه الله :
اَلْعِلْمُ قَالَ اللهُ وَ قَالَ الرَّسُوْلُ وَ قَالَ الصَّحَابـَةُ هُمْ أَوْلَو العِرْفَانِ
"Ilmu adalah firman Allah, sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam dan perkataan para shahabat merekalah orang-orang yang berilmu"
Wahai ukhti fillah, bahwasanya Islam semenjak cahayanya terbit telah memerintahkan kaum wanita untuk menuntut ilmu yang bermanfaat. Tentunya dengan metode yang tidak melanggar syar'i, yaitu tidak ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan), bahkan khalwat (berduaan antara laki-laki dan perempuan di tempat yang sepi), atau apa saja yang melanggar syar'i. Lain halnya dengan wanita masa kini, sungguh jauh berbeda dengan keadaan wanita-wanita salafiyah terdahulu.
Adapun ilmu yang wajib dipelajari setiap muslimah adalah ilmu yang berkaitan dengan Al-Kitab (Al-Qur'an) berikut tafsirnya, Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam, Tauhid dan Fiqh.
Metode thalabul ilmi syar`i bagi wanita dapat diperoleh dengan beberapa cara diantaranya dengan membaca kitab-kitab Islam, mendengarkan kaset Islami sampai kajian rutin dan mengikuti ceramah ilmiah. Perlu ditekankan di sini bahwa metode ini semua harus dilakukan atau ditempuh dengan mengikuti bimbingan para ulama salaf dan menghindari pelanggaran-pelanggaran syariat meskipun hanya perkara kecil.
Seorang ibu akan banyak mengambil faedah dari ilmu ini, karena dia sebagai madrasah, pendidik sekaligus teladan bagi anak-anaknya, ia mempunyai tanggung jawab mendidik anak-anaknya menjadi anak yang sholih dan sholihah, yang mana hal ini kelak akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah.
Figur shahabiyah yang tepat dalam memilihkan madrasah bagi anaknya adalah Ummu Sulaim binti Milhan yang mengutus anaknya (Anas bin Malik) untuk menjadi Khadim (pelayan) Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sekaligus menuntut ilmu dan bermulazamah bersama beliau Shallallahu 'Alaihi wa sallam. Lain halnya dengan mayoritas ibu-ibu masa globalisasi ini, mereka justru memilihkan sekolah bagi anak mereka sekolah yang tidak mengajarkan ilmu syar'i secara menyeluruh, melainkan hanya beberapa jam saja dalam sepekan.
Ilmu syar`i akan berpengaruh kepada seluruh kehidupan muslimah pada umumnya. Ilmu syar'i akan mendorong muslimah untuk menjadikan rumahnya berdengung dengan dzikir dan bacaan Al-Qur'an yang tidak terdengar darinya nyanyian-nyanyian, senandung yang hampa dan maksiat-maksiat lainnya Namun perlu diingat bahwa orang-orang kafir dan orang-orang fasiq tidak ada yang suka bila kaum muslimah meneguk dan meminum ilmu syar`i. Maka bagi seorang wanita muslimah perlu berhati-hati terhadap propaganda dan makar serta umpan dan jerat mereka yang mereka pasang di setiap jalan. Hanya wanita yang lalai dari ilmu syar'i saja yang akan tertarik dan termakan oleh makar mereka, naudzubillahi min dzalik, dan hanya muslimah yang mendalami ilmu syar`i yang akan selamat dan mampu menolak serta melawan tipu muslihat dan makar mereka.
Seorang muslimah juga wajib membekali dirinya dengan ilmu sebelum memasuki jenjang pernikahan, sehingga ia dapat menunaikan kewajibannya sesuai dengan tuntunan syari'at.
Sebagai seorang istri, seorang muslimah juga dituntut untuk menjadi istri yang shalihah sehingga ia bisa menjadi perhiasan dunia yang paling baik, bukan justru menjadi fitnah atau musuh bagi suami. Dari Abdullah bin 'Amr bin Al Ash (, Rasulullah ( bersabda :
( اَلدُّنـــْيــَامَتـَاعٌ وَخَيْرُ مَتـَاعِ الدُّنْيـَا اَلْمَرْ أَ ةُ الصَّالِحَةُ ( رواه مسلم
"Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah" (HR. Muslim) Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan sifat-sifat wanita shalihah :
( ...فَالصَّالِحَاتُ قَانِـتـَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ ( النساء : 34
"... maka wanita yang sholihah, ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara mereka". (QS. An Nisaa:34).
Berkata Syaikh Abu Bakar Jabir al Jazairi dan Syaikh Salim Al Hilali حفظهما الله : "Wanita yang sholihah adalah yang menunaikan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan mentaatinya, mentaati Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam dan menunaikan hak-hak suaminya dengan mentaatinya dan menghormatinya, serta menjaga harta suami, anak-anak mereka dan kehormatannya tatkala suami tidak ada"
Bagi seorang muslimah yang belum menikah maka sebagai anak ia wajib taat pada kedua orangtuanya selama tidak dalam kemaksiatan.
Semua fungsi dan peran tersebut tidaklah mungkin dicapai kecuali dengan menuntut ilmu syar'i, sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh para muslimah generasi terdahulu (salafus sholih). Diriwayatkan dari Abu Sa'id al Khudri ( , ia berkata :
قَالَتْ النـِّسَاءُ لِلنــَّبِيِّ : "غَلَبــَـنَا عَلــــَيْكَ الرِّجَالُ فَاجْعـَلْ لَنَا يَوْمـًا مِنْ نــَفْسِكَ" فَوَعَدَهُنَّ يـَوْمـًا لَقِيـَهُنَّ فِيْـهِ فَوَعَظَـهُنَّ وَأَمــَرَهُنَّ . رواه البخار
"Berkata kaum wanita kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa sallam : "Kami telah dikalahkan oleh kaum lelaki (dalam ilmu), maka jadikanlah bagi kami satu harimu (agar engkau mengajarkan kepada kami apa yang telah Allah ajarkan kepadamu). Maka beliau mebuat perjanjian kepada mereka untuk menentukan hari pertemuannya, maka beliau menasehati mereka dan memerintahkan mereka (bersedekah) pada hari tersebut (H.R.Bukhari)
Sesungguhnya alam dunia ini adalah rumah tempat beramal dan akhirat adalah rumah tempat kembali. Bersemangatlah untuk menuntut ilmi syar`i yang bermanfaat dan mohonlah kepada Allah agar Dia mengajarkan kepada kita pengetahuan dan pemahaman dan Dia jadikan ilmu itu bermanfaat dalam kehidupan dunia dan akherat.
-Razif Abdullah-
Maraji':
Atsarul 'Ilmi As-Syar' Fi Hayati Al-Mar'ah, Ummu Hasan
(Al Fikrah Tahun 2 Edisi 2)

Bayar Riba dengan Uang Riba, Bolehkah?



Ustadz, orang tua saya menabung di bank konvensional. Kemudian orang tua saya mengamanahkan tabungan itu pada saya. Kemudian saya memindahkan seluruh uang tabungan itu ke bank syariah. Dalam uang tabungan tersebut, terdapat sekitar 600 ribu rupiah uang hasil bunga (berdasarkan data pada buku tabungan bank konvensional). Rencananya uang riba itu akan saya keluarkan untuk fasilitas-fasilitas umum.
Sementara itu ada seorang sahabat saya yang ibunya berhutang kepada tetangganya (menggunakan sistem riba bunga bulanan), dan sudah saatnya jatuh tempo. Sahabat saya itu ingin melepaskan ibunya dari riba tersebut dengan cara melunasi pokok pinjaman dan bunganya. Bolehkah saya menggunakan uang riba dari tabungan orang tua saya untuk melunasi utang ibu sahabat saya?
Jazakallah,
Dian

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Cukup satu baris kalimat dalam menjawab masalah anda, yaitu: Tidak boleh bersedekah dengan uang haram.
Ketika anda ingin menutupi hutang ibu teman anda, niatnya tentu niat yang mulia. Dan tentunya perbuatan itu sangat besar nilai pahalanya di sisi Allah SWT. Perbuatan seperti ini, yaitu melepaskan seseorang dari jeratan hutang, adalah perbuatan yang sangat mulia dan pasti Allah SWT akan mengganti dengan harta yang lebih baik.
Namun apabila uang yang anda gunakan untuk menolong itu bukan uang yang halal, tentunya nilai pahalanya justru akan lenyap. Sebab Allah SWT tidak menerima sebuah ibadah maliyah yang diambilkan sumber uangnya dari sumber-sumber yang tidak halal.
Uang hasil dari bunga bank jelas riba, oleh karena itu status hukumnya adalah uang haram. Sebagai uang dengan status hukum haram, maka uang ini tidak sah bila digunakan untuk hal-hal yang bersifat kebajikan amal yang diniatkan untuk mendatangkan pahala.
Maka uang itu tidak boleh digunakan untuk membangun masjid, pesantren, madrasah, sekolah, rumah yatim, atau sumbangan-sumbangan lain yang diniatkan untuk mendapatkan nilai pahala dari sisi Allah SWT.
Dalil keharaman berbuat kebajikan dengan menggunakan uang haram adalah sabda Rasulullah SAW:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا
Dari Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah itu baik (suci). Dia tidak menerima pembeiran kecuali dari sumber yang baik (suci) pula."
Dan tentunya sebagai muslim, kita pun telah diharamkan untuk memakan rejeki kecuali dari sumber-sumber yang jelas kehalalannya. Sebagaimana firman Allah SWT:
يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم
Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik dari rejekimu. (QS Al-Baqarah: 172)
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.

Apakah Ibadah Tidak Diterima Apabila di Tubuh Kita Ada Tato?


Assalamu'alaikum wr. wb.

Pak ustadz yang baik, saya ingin menanyakan apakah ibadah tidak akan diterima apabila di tubuh kita ada tatto? Adakah hadist atau dalil al-Quran yang menerangkan tentang pembuatan tatto? Lalu bagaimana jika sudah terlanjur ada tatto di tubuh saya?
Saya menyesal sekali membuat tatto ini karena tidak ada manfaatnya sama sekali dan saya sangat menyesal karena telah terjerumus ke lembah hitam. Terima kasih atas penjelasan dari pak ustadz.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Khoirul Umam

Jawaban

Assalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang haram dari tato adalah membuatnya. Sedangkan anggapan bahwa orang yang punya tato tidak diterima ibadahnya lantaran tato itu menutupi kulit dari terkena air wudhu', sebenarnya tidak demikian.
Sebab kalau kita cermati yang terjadi pada tato, tidak ada lapisan yang menghalangi kulit dari terkena basah air. Sebab tinta tato itu bukan merupakan selaput yang menutup kulit, melainkan tinta yang masuk ke dalam bagian dalam kulit. Sehingga tidak terjadi proses pelapisan atau penutupan kulit dari terkena air wudhu. Termasuk juga air untuk mandi janabah.
Namun yang jadi masalah justru pada pembuatan tato itu. Membuat tato itu adalah perbuatan haram dan dilaknat oleh Rasulullah SAW seperti tersebut dalam hadisnya:
Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan yang mentato dan minta ditato, dan yang mengikir gigi dan yang minta dikikir giginya. (HR At-Thabarani)
Tato yaitu memberi tanda pada muka dan kedua tangan dengan warna biru dalam bentuk ukiran. Sebagian orang-orang Arab, khususnya kaum perempuan, mentato sebagian besar badannya. Bahkan sementara pengikut pengikut agama membuatnya tato dalam bentuk persembahan dan lambang-lambang agama mereka, misalnya orang-orang Kristen melukis salib di tangan dan dada mereka.
Perbuatan-perbuatan yang rusak ini dilakukan dengan menyiksa dan menyakiti badan, yaitu dengan menusuk-nusukkan jarum pada badan orang yang ditato itu. Semua ini menyebabkan laknat, baik terhadap yang mentato ataupun orang yang minta ditato.
Jalan terbaik buat orang yang sudah terlanjur ditato adalah bertaubat kepada Allah SWT. Kalau masih mungkin dihilangkan gambar-gambar itu, upayakanlah sebisa mungkin. Tapi kalau mustahil, maka bersabarlah. Semoga Allah SWT menerima permohonan ampun dan taubat Anda. Yang penting hati anda telah kembali ke jalan Allah.
Dan jangan khawatir shalat anda tidak diterima hanya lantaran isu bahwa tato menghalangi air wudhu'. Insya Allah tato itu tidak menghalangi air wudhu' dan bila anda berwudhu' dengan memenuhi syarat dan rukunnya, hukumnya sah dan anda boleh melakukan shalat dengan wudhu' itu.
Wallahu a`lam bish-shawab, wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ahmad Sarwat, Lc

Apakah Allah Menjamin Umat Islam Masuk Surga?


Assalamu"alaikum wr. wb.

Saya mempunyai seorang teman yang beragama Kristen Advent, dia selalu menanyakan tentang jaminan oleh Allah bahwa umat Islam itu dijamin masuk surga nantinya? Saya minta tolong untuk dijelaskan terdapat di dalam dalam surat mana dan ayat mana. Demikian, saya harap untuk dijawab secepatnya.
Wassalamu'alaikum wr wb.
Adityo

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatulahi wabarakatuh,
Dalam aqidah ahlussunnah wal jamaah, setiap Muslim memang dipastikan pada akhirnya akan masuk surga. Namun tidak ada yang menjamin bisa lolos begitu saja langsung tanpa lewat neraka. Tergantung dari dosa dan berat timbangan amal baik dan buruk, setelah dihisab.
Sebaliknya, orang kafir (non muslim) sudah dipastikan masuk neraka. Meski punya banyak perbuatan yang terbilang baik di mata manusia. Tapi sayang di mata Allah justru dia merupakan penentang utama. Allah SWT mengutus nabi dan rasul, dia malah mengingkarinya. Allah menurunkan kitab suci, dia malah membuangnya. Apalah artinya baik di mata manusia tapi kufur di mata Allah?
Jaminan buat orang Islam untuk masuk surga banyak didapat keterangannya pada sabda-sabda Rasulullah SAW. Misalnya hadits berikut ini:
‏ ‏أبي هريرة ‏ ‏أن رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال:‏ كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى قالوا يا رسول الله ومن يأبى قال من أطاعني دخل الجنة ومن عصاني فقد أبى"رواه البخاري
Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Setiap ummatku pasti akan masuk surga, kecuali yang tidak mau. Shahabat bertanya, "Ya Rasulallah, siapa yang tidak mau?" Beliau menjawab, "Mereka yang mentaatiku akan masuk surga dan yang menetangku maka dia telah enggan masuk surga." (HR Bukhar)
Selain itu juga ada hadits Rasulullah SAW lainnya yang menyebutkan hal itu.
Dari Abi Said bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Bila ahli surga telah masuk surga dan ahli neraka telah masuk neraka, maka Allah SWT akan berkata, "Orang yang di dalam hatinya ada setitik iman, hendaklah dikeluarkan. Maka mereka pun keluar dari neraka." (HR Bukhari 6560 dan Muslim 184)
Dari Anas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan (Laa Ilaaha Illallah) dan di dalam hatinya ada seberat biji dari kebaikan (iman). (HR Bukhari 44 dan Muslim 193)
Ada juga hadits yang isinya merupakan sumpah Allah SWT bahwa orang yang mengucapkan syahadatain itu akan dikeluarkan dari neraka.
Dari Anas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang Allah SWT yang berfirman, "Demi Izzah-Ku, demi Jala-Ku, demi Kesombongan-Ku dan demi Keagungan-Ku, Aku pasti keluarkan (dari neraka) orang yang mengucapkan (Laa ilaaha illallah). (HR Bukhari)
Semua hadits di atas dan masih banyak lagi hadits di atas memang memberikan jamiman bahwa orang yang telah pernah mengucapkan syahadatain itu pastilah dikeluarkan dari neraka dan masuk ke dalam surga.
Hanya saja masalahnya, tidak ada jaminan bahwa sebelum masuk ke surga itu apakah akan mampir ke neraka dulu atau tidak. Yang kedua, tentu saja yang dimaksud dengan mengucapkan dua kalimat syahadat itu adalah ikrar yang datang dari lubuk hati, bukan sedekar asal bunyi tapi tanpa rasa percaya.
Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'alaikum warahmatulahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.

Jejak Berdarah Teroris Israel di Haram Ibrahimi, Hebron



COMES:- Pada suatu Jumat sepuluh tahun yang lalu, di pagi yang dingin pada 25 Februari 1994. Orang kebanyakan masih mendengkur dalam selimut. Muazin baru saja mengumandangkan azan. Jam menunjukkan pukul 05.20 di Masjid Ibrahim, Hebron. Meski langit Februari yang bertepatan pada bulan Ramadhan kala itu terasa amat dingin, Namun ratusan orang Palestina segera berbondong-bondong menuju Haram Ibrahimi, mereka segera berjajar melaksanakan salat subuh usai muadzin mengumandangkan iqamah.
Bagi sebagian jama’ah, Jum’at pagi yang damai itu ternyata menjadi shalat tarakhir mereka. Ketika seorang laki-laki bercambang, bersenjata, menyamar dalam pakaian tentara Israel, perlahan datang merapat mendekati tempat sujud mereka. Kebencian menyeruak di pagi itu. Dan tiba-tiba saja berondongan senjata membelah keheningan subuh. Senapan laras jenis rifel galil telah memuntahkan timah-timah panas ke punggung-punggung jemaah subuh yang tengah bersujud, sampai habis tiga hower peluru, lalu dilemparkannya tiga biji granat ke kerumunan orang yg tak bisa membalas atau mempertahankan diri itu. Mayat pun bergelimpangan, termasuk anak-anak, darah muncrat, jerit bersahutan, membumbung, dan sesudah itu kita tahu, Baruch Goldstein telah menjadikan subuh itu sebagai shalat terakhir bagi 54 orang Palestina yang gugur syahid di antara ratusan jama’ah yang tengah sujud khusyu’ di atas sajadah mereka.
Dr. Baruch Golstein, sang pembantai puluhan muslim di Hebron. Ia adalah seorang dokter Yahudi kelahiran Brooklyn, New York, berumur 38 tahun, yg pindah ke Palestina dengan mengusung doktrin radikal, bahwa orang Arab adalah sejenis epidemi. "Mereka patogen yg menjangkiti kita," ungkapnya.
Sesampai di Palestina, Goldstein pun masuk Partai Kach, yang langsung mendapatkan doktrin dan pembinaan pandangan-pandangan ekstrim Rabi Kahane. Yang disebut terakhir ini adalah seorang pengkhotbah fanatic Yahudi, penganjur ajaran ekstrem pembuangan (transfer) orang Palestina dari Palestina. Kahane kemudian terbunuh.
Terorisme dan pembantaian adalah jalan paling praktis bagi Dr. Baruch Golstein guna mewujudkan impian Yahudi untuk sebuah negeri entitas bangsa Yahudi agar tak terancam punah.
Pada 24 Februari 1994 malam, bertepatan menjelang perayaan pembebasan bangsa Yahudi yang dikenal sebagai hari besar Purim. Ia beranjak menuju makam para leluhur di wilayah Hebron/al Khalil, Tepi Barat. Di daerah ini berdiri Goa Machpelah, yang konon adalah tempat pentahbisan Ibrahim, Siti Sarah, dan Nabi Ishaq. Di sini pula Masjid Ibrahimi didirikan pada abad ke-7 Masehi.
Malam itu Dr. Baruch Golstein menyimak Scroll of Esther (Gulungan Suci Esther) –semacam barjanji dalam tradisi kaum nahdhiyin di Indonesia –, yang mengisahkan tradisi Malam Purim. Entah karena apa, hatinya gelisah dan diapun segera beranjak dari perjamuan malam menjelang Purim menuju ke rumahnya di kompleks Al Khalil. Pada 25 Pada 25 Februari 1994, kala subuh menjelang, ia beranjak lagi dari rumahnya menuju Masjid Ibrahim. Ratusan jama’ah tengah sujud menunaikan shalat subuh. Dan akhirnya, pembantaian biadab itupun terjadi.
Pasukan militer penjajah Israel yang biasa melindungi Goldstein sebenarnya telah mengirimkan pesan lewat pager. Namun Goldstein tak menyahut. Beberapa jam berikutnya, mereka menyadari "orang penting" yang diberi privasi penjagaan oleh rezim penjajah Israel itu telah kalab dengan kebuasannya dan nyawanya melayang setelah seseorang menghantam kepalanya dengan tabung alat pemadam kebakaran – satu-satunya senjata yang dipunyai orang Palestina di mesjid itu – dari belakang.
Yang perlu mendapatkan catatan tambahan adalah, aksi ini terjadi di depan mata dan mendapatkan pengawalan khusus dari pasukan militer penjajah Zionis Israel. Ini membuktikan bahwa peristiwa pembantaian ini memang telah direncanakan sebelumnya oleh berbagai pihak termasuk pemerintah Israel. Meski di kantornya, di Jerusalem Perdana Menteri Israel Ishak Rabin menyebut Goldstein hanyalah seorang yang"sakit jiwa". Dan bagi sebagian kaum ekstrimis Yahudi, Goldstein adalah sang pahlawan yang hingga kini makamnya menjadi lokasi penziarahan khusus bagi orang-orang Yahudi radikal.
Aksi inipun kemudian menyulut aksi demonstrasi besar-besaran di segenap penjuru Tepi Barat dan Jalur Gaza. Aksi ini kemudian mendapat penghadangan dari warga permukiman Yahudi bersenjata. Bentrokan tidak dapat dihindarkan dan mengakibatkan 21 orang Palestina gugur dan lebih dari 500 lainnya terluka.
Bila sebagian public Israel menganggap pembantaian biadab Goldstein ini sebagai tindakan kepahlawanan, maka rezim penjajah Zionis Israel hanya melakukan tindakan berikut: pertama memberikan sanksi tahanan rumah bagi 4 orang anggota geng teroris Kach; kedua melucuti senjata 9 orang warga permukiman; ketiga pembentukan tim penyelidik yang dipimpin oleh hakim agung dan; keempat pembekuan geng teroris Kach dan Kahana.
Dan setelah itu, peristiwa pembantaian biadab itu telah terlupakan dalam benak masyarakat dunia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya. (seto)

Hak Palestina Yang Tercerabut dan Bisunya Arab




Hasan bin Thalal
(El Hayat London)
“Siapa yang terbiasa menelantarkan sesuatu dia pasti menyia-nyiakan hak. Termasuk sikap tidak berdaya, jika Anda menuntut apa yang tidak mungkin dikejar dan meninggalkan apa yang mungkin dikerjakan demi akibat yang baik,” (Imam Ali karramaallahu wajhahu). 
Di antara akibat Perang Dunia I, Negara-negara Timur Dekat (Near East) terpecah-pecah menjadi beberapa Negara dan aliran politik. Perancis diberi otoritas atas Suriah dan Libanon. Inggris diberi otoritas atas Palestina dan Irak. Tidak semua keputusan dan kebijakan saat itu sesuai dengan keinginan penduduk atau sejumlah perjanjian yang diteken di akhir perang yang bertujuan untuk menentukan nasib masa depan mereka. Bahkan kebijakan itu dilakukan atas dasarkan kepentingan sepihak (pihak yang kuat) tanpa malu-malu. Banyak pengamat memberikan isyarat bahwa semua janji-janji memerdekakan bangsa kecil terjajah hanya munafik dan riya.
Resolusi DK PBB no. 242 pada 22 November 1967 menegaskan tidak bolehnya mengambil sebuah kawasan dengan perang dan menegaskan pentingnya bekerja menciptakan perdamaian yang adil dan selamanya yang memberikan setiap Negara untuk hidup aman.
Sejak saat itu, pembicaraan perwujudan perdamaian yang adil dan lengkap di Timur Tengah terus digulirkan. Bahkan saking seringnya hingga maknanya semakin pudar. Penerjemahannya pun semakin sulit diwujudkan, jika tidak mustahil. Ketidak percayaan berhasilnya prakarsa perdamaian, terutama dari pihak Arab, menjadi penghalang keberhasilan yang ada. Selama ini tidak ada hasil dari perdamaian bahkan yang ada hanya kepedihan, tertekan, penjajahan yang menyakitkan bagi saudara kita di Palestina. Mereka menghadapi berbagai macam bentuk diskriminasi, penjajahan, penindasan yang bisa disaksikan setiap saat di layar TV. Tembok rasial Israel masih terus dibangun meski mahkamah internasional di Den Hag tahun 2004 meminta kepada Israel menghentikannya karena dianggap tidak legal dan memberikan ganti pada penduduk yang dirugikan.
Jika kembali kepada rekomendasi ke sembilan pada laporan UNSCOP tahun 1947, kita temukan keputusan ini menegaskan keharusan menjaga persatuan ekonomi Palestina sebagai dasar untuk mewujudkan perkembangan potensi materi dan kemanusiaan. Prosedur sekarang yang diambil oleh pemerintah Israel soal tembok rasial yang menghalangi pembangunan terutama di wilayah jajahan dan melakukan perusakan pada masyarakat Palestina. (atb)

AL JIHAD ADALAH JALAN


  Sesungguhnya ucapan pemimpin Parti Likud berhubung dengan perdamaian sepatutnya membangkitkan kesan kepada setiap Muslim dan Arab, pemerintah atau yang diperintah, kerana ia menguatkan apa yang telah dia (pemimpin Parti Likud) tulis di dalam bukunya, “Suatu Tempat di bawah Matahari” di mana dia berkata: “Di sana terdapat dua jenis perdamaian, pertama: yang dibuat di antara negara-negara demokratik; dan yang kedua: (yang dibuat) dengan negara-negara diktaktor. Yang pertama itu berdiri di atas setiajanji serta asas-asas yang dihormati dari segenap pihak. Manakala yang kedua itu berdiri di atas penolakan pihak-pihak demokratik terhadap pihak-pihak diktaktor. Oleh kerana Israel adalah satu-satunya negara demokratik di Timur Tengah, sedangkan semua negara-negara Arab diperintah oleh peraturan (kuasa) diktaktor, maka sesungguhnya perdamaian (dengan cara) penolakkan dengan kekuatan ketenteraan yang bertambah besar adalah sebaik-baik apa yang boleh ditawarkan oleh Israel”. 
 Setelah penjelasan ini (dari buku tersebut) mengenai hakikat musuh serta niat-niatnya: apakah dia sikap ataupun pendirian negara-negara Arab dan Islam di hadapan ancaman dengan penolakan menerusi kekuatan ketenteraan yang bertambah besar ini? (Jawapannya) Salah satu daripada dua pendirian, tidak ada yang ketiga baginya: samada tunduk kepada penolakan ketenteraan ini atau dengan kata lain menyerah diri di bawah slogan perdamaian, serta membiarkan musuh merealisasikan apa yang telah digariskan daripada matlamatnya (iaitu) “Israel al Kubra (yang besar) daripada Nil hingga ke Furat”, yang meliputi Palestin, Jordan, Syria, Lubnan, Iraq dan Mesir. Maka, ini bermakna kesia-siaan, keaiban dan kerugian bagi orang-orang Arab dan Islam.
 Adapun sikap yang kedua ialah: orang-orang Arab dan Islam mengambil urusan ini dengan suatu keseriusan yang sepadan dengannya. Apabila musuh telah mengancam dengan kekuatan maka tidak dapat tidak kita hendaklah menyediakan diri kita untuk menghadapi kekuatan dengan kekuatan, dan setiap daripada kita yakin bahawa kita akan menjadi orang yang menang dengan izin Allah. Demikianlah, apabila kita memperelokkan tawakal ke atasNya, serta setelah kita berazam untuk mengembalikan setiap hak-hak kita dan membebaskan setiap jengkal dari bumi kita, maka nescaya Allah akan menguatkan kita dengan pertolonganNya. “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, nescaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (Muhammad: 7).
 Sesungguhnya musuh zionis itu berbenteng dengan kekuatan Amerika dan mengeksploitasi jangkamasa menjelang pilihanraya Amerika. Lantas, dia (musuh) pun bongkak dan mengancam membina penempatan-penempatan baru untuk pendatang-pendatang dan membuka terowong di bawah Masjid al Aqsa, dan tidak akan kembali hak-hak ini melainkan dengan kekuatan. (Peristiwa terowong ini telah menyebabkan pergeseran di antara pihak Yahudi dan Islam di Palestin serta mengorbankan banyak nyawa di kedua belah pihak: tambahan dari penterjemah)
 Cita-Cita itu Besar (tinggi)
 Tidak dapat tidak, hendaklah kita membangkitkan harapan di dalam jiwa serta membebaskan diri kita daripada al Wahan yang telah menimpa banyak manusia dan hendaklah kita menambatkan pertolongan dan kemenangan daripada Allah. (Asal perkataan al wahan boleh didapati daripada Hadith yang dikeluarkan oleh Imam Abu Daud yang bermaksud: “Hampir dunia mengerumuni ke atas kamu (umat Islam) seperti mana orang-orang yang sedang makan menghadapi makanannya. Maka berkata seorang sahabat r.a., apakah lantaran sedikit bilangan kita pada hari itu? Jawab Rasulullah saw, malah kamu pada hari itu ramai tetapi kamu seperti buih laksana buih banjir. Dan Allah telah mencabut kegerunan daripada dada (hati) musuh-musuh kamu dan mencampakkan ke dalam hati kamu al Wahan. Maka berkata seorang sahabat ra, apakah al Wahan itu Ya Rasulullah? Jawab Rasulullah saw: Cintakan dunia dan bencikan kematian : Penterjemah.) Sesungguhnya kita telah merasakan yang demikian itu dalam peperangan Oktober 1973, bahawasanya persediaan keimanan bagi pejuang-pejuang di bulan Ramadhan dan teriakan Allah Akhbar merupakan pertolongan dalam mengatasi dan memenangi ke atas musuh.
 Begitu juga Barisan Penentangan Kebangsaan (Al Muqowwamah asSha’biyyah) yang berjuang di bandar Suez pada 24 Oktober 1973 daripada dalam masjid-masjid. Dan kita ingin menyebut dengan kebaikan al Mujahid al Haj Hafiz Salamah dan saudara-saudaranya daripada tentera-tentera, sesungguhnya mereka telah mempertahankan Mesir seluruhnya dan mereka telah mengusir musuh zionis. Begitu juga, kami mengingati Barisan Penentang Kebangsaan Lubnan (Al Muqowwamah asSha’biyyah al Lubnaniyyah) yang telah meletupkan tempat penginapan musuh dan memaksa kekuatan tentera Marin Amerika untuk meninggalkan Lubnan. Juga amalan-amalan mati syahid yang muktahir di Palestin dan Quds oleh Barisan Penentang Islam (al Muqawamah al Islamiyyah) dan yang terbunuh di dalamnya 60 orang zionis, ianya mempunyai kesan yang paling besar dalam memecahkan kesombongan serta tipu daya zionis dan menghalau musuh kepada Clinton bagi mendapatkan keamanan.
 Sekiranya kita kembali kepada sejarah yang lalu pada tahun 1948 nescaya kita telah menyaksikan apa yang telah didirikan (dibangunkan) oleh al Fadaiyun (orang-orang yang menebuskan jiwa raga) daripada Ikhwan al Muslimin dan selain daripada mereka yang menentang pihak zionis. Apa yang telah mereka tegakkan mungkin boleh mengubah arus peristiwa-peristiwa, tetapi komplot di antara negara-negara asing yang telah menerima aduan daripada negara musuh bersama dengan kerjasama dari setengah negara-negara Arab dalam komplot ini, telah membawa kepada gagalnya peperangan tersebut dengan termeterinya genjatan senjata, diikuti dengan pengisytiharan pembahagian negeri dan pengiktirafan Amerika serta Rusia terhadap kewujudan perampas zionis.
 Mendedahkan Musuh Sesungguhnya ahli falsafah Roger Garudi semasa lawatannya ke Mesir telah menolong mendedahkan musuh zionis itu di mana ia telah berkata “Sesungguhnya Israel adalah tentera yang mempertahankan petrol di Timur Tengah mengikut perkiraan Amerika serta Barat, yang telah menanam (meletakkan) Israel di suatu pusat ekonomi yang penting di dunia bahagian ini, yang mempunyai separuh daripada bekalan petroleum dunia. Dan mereka telah menyempurnakan perlengkapan musuh ini dengan senjata-senjata bagi merealisasikan kubu ini (musuh zionis) yang tegak padanya tempat mengintip orang-orang Arab dan Islam, serta memperkembangkan senjata dan jadilah ia suatu kubu nuklear. Ia juga menghalang negara-negara Arab daripada memiliki senjata ini, serta pada tanggapan musuh, senjata nuklear ini akan menghancurkan harapan orang Arab untuk mencapai kemenangan yang terakhir ke atas Israel”. Yang dimaksudkan daripada penerangan Roger Garudi ini adalah, sebarang pencerobohan daripada musuh zionis itu walaupun apa bentuknya, dikira sebagai pencerobohan daripada Amerika dan sekutu-sekutunya. Maka sesungguhnya dialah (Amerika) yang bertanggungjawab terhadap pencerobohan-pencerobohan ini. Dan wajiblah ke atas kerajaan-kerajaan kita dan bangsa-bangsa kita untuk merasakan hakikat ini lalu menentukan pendiriannya dalam menghadapi Amerika yang menaungi pencerobohan ini, serta apa yang mungkin untuk dia menyusunnya daripada penat lelah dan buruk hubungan dengan negara-negara setempat. Garudi telah berkata lagi: “Sesungguhnya Israel tidak akan dapat bertahan melainkan beberapa bulan yang sedikit sahaja sekiranya Amerika meninggalkannya (membiarkannya).” Begitu juga dia berkata: “Sesungguhnya Amerika menguasai ekonomi dunia melalui bank dunia, tabung pertukaran wang dunia dan perjanjian GATT”. Beliau juga telah menunjukkan kepada kemusnahan dalaman yang Amerika kini sedang hadapi. Beliau juga berbicara tentang Islam dan bagaimana ianya (Islam) merupakan harapan bagi dunia seluruhnya untuk keluar daripada tribulasi-tribulasi semasa. Sesungguhnya Garoudi mengutamakan politik Netanhayu daripada Peres kerana ianya menyatukan orang Arab, dan dia telah berkata: “Sesungguhnya titik kelemahan bukanlah kekuatan-kekuatan bersenjata maka bolehlah kita menghancurkan roket-roket dengan Intifadhah (kebangkitan).” Dan dia telah berkata lagi: “Kalaulah dunia ketiga memutuskan hubungan dengan Amerika nescaya akan membawa Amerika kepada muflis”, dan dia menyeru kepada kepentingan (ke arah) mempunyai pasaran bersama (common market) dan hubungan dagangan di antara selatan dengan selatan.
 Bahawasanya kami memberikan amaran kepada negara-negara Arab yang akan menyertai persidangan ekonomi, daripada dipengaruhi oleh unsur-unsur negatif persidangan ini dan matlamat yang dituju oleh musuh iaitu menyempurnakan kebersamaan dengan negara-negara Arab, menghapuskan pelbagai sekatan, memerangi bangsa Arab dengan pelbagai warna kefasadan (kerosakan) dan kehancuran, begitu juga pengawalan ekonomi terhadap negara-negara tersebut (Arab).
 Sesungguhnya orang-orang Yahudi telah disifatkan oleh Allah Taala sebagai “manusia yang paling kuat permusuhannya dengan orang beriman, sebagai orang orang yang melakukan kerosakan di atas muka bumi, sebagai orang yang tidak akan meninggalkan ruang ataupun jalan ke atas kerosakan melainkan mereka akan mengambilnya”. Kita juga mendapati mereka bertolong-tolongan dengan setiap orang yang merasa permusuhan terhadap Islam dan umat Islam dalam setiap pekerjaan yang boleh mendapatkan orang-orang Islam. Tetapi: “mereka membuat tipu daya dan Allah juga membuat tipu daya dan Allahlah sebaik-baik pembuat tipu daya”.

  Islam Adalah Agama Kedamaian Tetapi Ia Telah Mewajibkan Jihad
 Islam adalah satu agama yang telah diutuskan Allah dengannya Rasul-rasul dan nabi nabi semenjak dahulu lagi. Kemudian, Allah mengutuskan dengannya Nabi kita Muhamad saw dan Allah telah menjadikan Islam untuk manusia hingga ke hari kiamat. Dan ia (Islam) adalah satu agama dan negara yang mengatur kehidupan manusia serta perhubungan-perhubungannya dan mengarahkan mereka kepada risalah mereka di dunia supaya mereka berbahagia di akhirat. Dan ia adalah satu agama perdamaian, keamanan, kemerdekaan, dan keadilan. Ia adalah agama kecintaan, kasih sayang, tolong menolong dan imbang mengimbangi, ia menyuruh dengan segala yang baik dan melarang dari segala yang buruk. Allah juga telah menjadikan Jihad sebagai satu kewajiban penyudah ke atas orang-orang Islam sehinggalah hari kiamat, ia mendorong orang Islam supaya cinta kepada mati Syahid, serta meninggikan kedudukan para syuhada. Tanpa Jihad tidak berdirilah tunggak bagi agama ini, maka tersebarlah kebatilan serta meratalah kerosakan. Allah swt telah memerintahkan orang-orang Islam supaya bersiap sedia dengan kekuatan dengan firmannya
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahui; sedangkan Allah mengetahuinya” (al Anfal: 60).
 Sebagaimana dikatakan orang: Sesungguhnya persediaan adalah sebaik-baik jalan ke arah keselamatan. Firman Allah Taala lagi:
“Kerana itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala  yang besar” (an-Nisa’: 74).
Begitu juga Allah telah menjanjikan kepada mereka yang tidak berjuang dengan seburuk-buruk balasan.
 Di samping itu, Jihad di jalan Islam adalah semulia-mulia tujuan. Juga, jalannya itu merupakan semulia-mulia jalan. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan pencerobohan. Adapun orang-orang Islam apabila mereka berperang, mereka tidak melampaui batas, mereka tidak menghancurkan, mereka tidak merosakkan (memotong) tumbuhan, tidak mencuri, tidak merampas harta benda, dan mereka juga tidak mencerobohi tempat-tempat larangan (yang dihormati). Maka mereka dalam peperangan itu adalah sebaik-baik pejuang sebagaimana mereka juga dalam perdamaian mereka adalah sebaik-baik orang yang berdamai. Begitu juga, telah nyata larangan membunuh wanita, kanak-kanak, orang-orang tua, serta larangan daripada membunuh orang-orang yang cedera, menghina rahib-rahib dan orang-orang yang bertapa (beruzlah). Dan sesiapa yang tidak memerangi tentera Islam adalah selamat. Maka di manakah itu jika dibandingkan dengan serangan-serangan terhadap orang-orang awam (civilian), dan kekejaman keatas mereka yang sangat keji?
 Di antara kata-kata al Imam asSyahid Hasan al Banna dalam Risalah al Jihad di bawah tajuk “Kenapa seorang Islam itu tidak berjuang?” yang berbunyi: “Allah mewajibkan Jihad ke atas orang-orang Islam bukanlah untuk membawa kepada pencerobohan, dan bukan juga satu cara untuk menyempurnakan tamak haloba individu, tetapi sebagai benteng pelindung untuk dakwah, serta jaminan untuk orang Islam, juga untuk menyempurnakan Risalah al Kubra (Risalah yang besar) yang dipikul bebannya oleh orang Islam iaitu risalah memimpin manusia kepada kebenaran dan keadilan. Adapun Islam, meskipun ia mewajibkan peperangan ia juga telah mengambilberat dengan perdamaian. Sebagaimana firman Allah:
“Dan jika mereka bermaksud kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah..” (al Anfal: 61).
Begitu juga, al Imam asSyahid berkata pada penutup Risalah al Jihad “Sesungguhnya ummat yang menyebabkan kematian dengan cara yang baik dan mengetahui bagaimana untuk mati dalam kematian yang mulia, Allah mengurniakan kepadanya kehidupan yang mulia di dunia dan kenikmatan yang abadi di akhirat. Tidak adalah al Wahan yang melemahkan kita yakni kecintaaan kepada dunia dan kebencian kepada mati. Maka persiapkanlah diri kamu untuk amal yang besar ini dan inginkanlah kepada kematian, nescaya akan diberikan kepadamu kehidupan. Dan ketahuilah kematian itu tidak dapat tidak daripadanya. Ianya (kematian) adalah sekali sahaja, jika kamu jadikannya pada jalan Allah jadilah ia keuntungan di dunia dan balasan pahala di akhirat. Tidaklah menimpa kamu melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kamu. Maka ketahuilah, dengan kematian yang mulia itu kamu berjaya dengan kebahagian yang sempurna. Semoga Allah mengurniakan kepada kami dan kepadamu kemuliaan mati syahid di jalanNya.” Di sini kami mengira bahawa sesungguhnya dia (Imam asSyahid) telah berjaya dengan mati syahid pada jalan Allah. Seterusnya kami memohon kepada Allah agar mengurniakan kami mati syahid pada jalanNya, agar memuliakan kami dengan Islam dan memuliakan Islam dengan kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Dekat lagi Maha Menerima doa.

Al IMAM AL BANNA….Hari Kesyahidannya



 Hari Rabu yang lalu 12 Feb 1997 merupakan tarikh syahidnya Imam al Banna yang cemerlang kehidupannya yang “pendek tetapi panjang” (1906 - 1949) rahimahullahutaala dengan asasnya yang kuat semenjak kecil, pembentukkannya yang tinggi, pembinaannya yang bertambah kemuncak dari hari kehari bahkan detik demi detik. Pembinaan dakwah berlaku melalui tangannya, sebagai satu gambaran daripada aktivitinya yang tertegak di atas kefahaman yang luas dan mendalam, yang disandarkan kepada keikhlasan yang mendalam, ketepatan yang unggul dalam usaha untuk merealisasikan amalan yang tersusun (berorganisasi) dan lantas melaksanakannya. Justeru itu maka telah terkumpullah untuk dakwah ini rukun-rukun kejayaan yang terpenting dan terlaksanalah baginya ufuk-ufuk penyebaran perkembangan, dan kaedah-kaedah tajdid (reformasi), bahkan ianya satu ijtihad yang jitu.
 Di antara tanda-tanda yang paling nyata yang telah dibentangkan dengan jayanya dalam kehidupan al Imam al Mujaddid ini adalah seperti berikut:

 1. Gerakan Yang Meluas Lagi Cemerlang
 Al Imam telah menyempurnakan gerakannya ke bandar-bandar, ke pelusuk kampung, ladang, masjid, bahkan ke kedai-kedai kopi serta di tempat perkumpulan orang ramai. Dan maklumat hal ehwal keadaannya memanifestasikan sabda Rasulullah saw “biarkan aku dengan manusia”. Maka beliau telah menziarahi 3,000 kampung ataupun lebih sebagai penceramah, jurubicara dan penasihat yang cemerlang. Membangkitkan manusia drp. tidur mereka, memperbaharui harapan di dalam diri dan pemimpin mereka. Beliau berhubung dengan pemimpin tanpa mengabaikan golongan bawahan. Beliau juga menyeru syeikh dan para ulama ke arah asas kefahaman yang baru kepada Islam yang ditegakkan di atas prinsip-prinsip yang jelas. Beliau tidak mencuaikan masyarakat umum, begitu juga beliau memberikan tumpuan kepada pemuda/remaja bahkan berusaha menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang sukar dengan berperingkat-peringkat serta penguasaan. Adapun tumpuannya yang setempat adalah Mesir dan tumpuannya yang secara lebih luasnya adalah kepada dunia Arab dan Islam. Manakala tumpuannya yang universal dan terbesar adalah kemanusiaan dan Ustaziatul `alam (orde dunia), sehinggalah semuanya dineutralkan lalu menjadi suatu tumpuan sahaja tetapi mengandungi berbagai-bagai aspek.

 2. Tidur Yang Sedikit.
 Adapun waktu menurut beliau adalah kehidupan dan waktu pada fahamannya tidak terhenti kepada batas-batas material iaitu emas semata-mata. Beliau juga tidak bersikap birokratik dari segi kedudukan pangkat dan jawatan, bahkan ia tidak mensia-siakan walau satu detik kehidupannya pada perbualan kosong dan terlalu banyak soal jawab terutamanya pada perkara yang tidak mempunyai apa-apa kelebihan. Beliau begitu asyik dengan dakwahnya sehingga beliau tidak tidur malam kerana cintakannya, berfikir untuknya, membuat perancangan baginya, memperkembangkan matlamat dan metodologinya. Kerana itu terbitlah risalah-risalahnya seperti: Da’watuna, ila ayyi syaiin nad`un nas, dakwatuna fi turin jadid, Ilas syabab dsbnya. Untuk memperkuatkan lagi perkembangan dan titik tolak (perjuangan fikrah dakwahnya). Beliau tidak berhenti disebabkan kesesatan serta tidak disibukkan dengan urusan titik bengik. Beliau juga tidak terbeban dengan kerehatan jasad seperti tidur dan bersantai, kerana da’wah pada hematnya adalah ruh yang mengalir di dalam ummat yang dihidupkan oleh al Quran.

 3. Luas Ilmu Serta Menghormatinya (ilmu)
 Imam al Banna berusaha untuk mengembalikan penyebaran Islam dengan seluruh sifat-sifat syumul (kesempurnaan), rabbani (bersumber dengan sumber-sumber ketuhanan) dan universal. Pernah diceritakan oleh orang yang memeriksa perpustakaan beliau setelah puluhan tahun shahidnya beliau, tentang betapa banyak, menakjubkan serta mendalam komentar-komentar yang beliau tulis di pinggir-pinggir perpustakaan tersebut dari apa yang telah dibaca dari buku-buku mengenai politik, ekonomi, sosial, sejarah, geografi, peperangan, perjanjian-perjanjian, hubungan antarabangsa, ugama-ugama da’wah dan sebagainya. Beliau begitu cintakan ilmu dan para ulama’. Suasana kemunduran didalam ummat telah merisaukan beliau, begitu juga pelbagai tohmahan yang dilemparkan kepada Islam yang menunjukkan kepada kejahilan dan sikap tidak ambiltahu. Kerana itu beliau telah menekankan di dalam Risalah Ta’alim: “Islam membebaskan aqal serta menggalakkan pengkajian alam semesta, juga meninggikan taraf ilmu dan ulama’. Ia juga mengalu-alukan segala yang baik lagi bermanfaat dari setiap sesuatu. ”Hikmah adalah barang yang hilang dari orang mu’min, dimana sahaja dia menjumpainya, dialah yang lebih berhak terhadapnya.”

 4. Keikhlasan dan Kecintaan Terhadap Da’wah
 Al Banna mempunyai kelebihan dengan kerohaniannya yang tinggi yang mengatasi individualiti, ciri-ciri peribadi, parti-parti, puak-puak, bahkan seluruh penyakit-penyakit hati yang lain. Tidak terkumpul di dalam hatinya melainkan rasa cinta kepada da’wah, suatu cinta yang tidak meninggalkan sebarang waktu di dalam jiwa melainkan akan sibuk dengannya, tidak juga suatu ruang kosong melainkan akan dipenuhinya. Beliau disibukkan oleh fikrah dan da’wah didalam berlalunya waktu, maka beliau berusaha kearah mematangkannya (fikrah dan da’wah) dengan meletakkan serta memperbaharui objektif dan matlamat. Kemudian beliau menggariskan wasilah (method) dan alat (strategi). Lalu beliau melintasi batas-batas taqlid, tapi menghormati ikutan tersebut. Sebagaimana beliau juga berusaha menyinambungkan proses tajdid disamping menghormati ufuk-ufuk linkungan dan martabat ketinggian. Beliau meningkat dengan banyak di dalam hidupnya, kerana beliau memahami hakikat bahawa “sesiapa yang sama dua hari (dalam hidupnya) maka dia telah tertipu”. Beliau mengambil berat terhadap ummat seluruhnya dengan sebenar-benarnya, sehingga tanahair islam pada hemat beliau dan ikhwan muslimin adalah seluruh bumi yang ada padanya muslim, kerana pemahaman yang baik terhadap sabda rasulullah s.a.w.: “Sesiapa yang tidak mengambilberat terhadap urusan orang islam bukanlah dari golongan mereka.”

 5. Memberikan sifat dan neraca sukatan
 Al-Imam alBanna telah meletakkan sejumlah neraca sukatan untuk mengukur kadar iltizam, kefahaman, akhlaq yang baik, serta perlaksanaan beban da’wah. Di antara neraca dan kayu ukur yang terpenting adalah rukun-rukun bai’ah yang sepuluh: Faham, ikhlas, amal, jihad, tadhiyah (pengorbanan), taat, thabat (teguh), tajarrud (tumpuan penuh), ukhuwwah dan thiqah (kepercayaan). Begitu juga : “Wajibat al akh al muslim” (Kewajiban akh muslim) iaitu 38 kewajiban. Begitu juga “Simat al akh al muslim” (Tanda-tanda akh muslim) iaitu: sejahtera aqidah, sahih (betul) ibadah, teguh akhlaq, kuat badan, akal yang berpengetahuan, berjihad terhadap hawanafsunya, berorganisasi dalam urusannya, menjaga waktu, mampu menyara diri, serta bermanfaat kepada orang lain.
 Sesungguhnya kami, dalam bicara yang cepat (ringkas) ini, tidaklah mencatitkan sejarah untuk lelaki ini (alBanna). Sehingga hari ini belum ada sebarang catatan sejarah yang layak untuk Imam mujaddid ini. Kami juga tidak berniat memuji-muji alImam yang unggul ini, bahkan kami tidak merasakan beliau perlu kepada pujian dari kami, tetapi kami ingin untuk menggambarkan beberapa pengajaran dari gambaran peribadi penda’wah yang unggul ini untuk sesiapa yang ingin mengambil pengajaran darinya, pada waktu yang bersangatan kegelapan kemunduran, penindasan serta berceraiberai yang dilalui oleh ummat. Sesungguhnya AlImam al Banna  rahimahullah- berada setapak kedepan didalam memahami golongan salaf, dan dia adalah model imam golongan khalaf. Beliau membangkitkan alam Islami dari tidurnya tanpa mempunyai sebarang mekanisma pemerintah dan menteri-menteri di dalam tangannya. Sehinggalah hari ini berkumandanglah suara Islam yang benar melaungkan disegenap tempat: “Islam Adalah Agama dan Negara”, selepas dari keadaan di mana Ibadah di sudutkan di penjuru-penjuru masjid sahaja, ataupun aqidah yang di simpan disudut-sudut hati, dan perasaan di dalam jiwa semata-mata.
 Betapa indahnya tulisan beliau semasa memberi amaran tentang pemberian tanggungjawab yang tidak disertakan dengan aspek ruhi, (Beliau begitu menekankan setiap tarbiah hendaklah rabbani dan ruhi) beliau juga menyeru untuk meningkatkan ukhuwwah dari tahap percakapan dan teori kepada tahap perlakuan dan amal perbuatan, dan di dalam pembentukan usrah-usrah Islamiah disandarkan kepada tiga rukun : Taaruf (saling kenal mengenali), Tafahum (saling faham memahami) dan Takamul (saling lengkap melengkapi).

 6. Bersyukur Semasa Menghadapi Tribulasi Dan Positif Dalam Amal
 Ustaz alBanna menceritakan dalam “Muzakkirot adda’wah wad da’iah” beberapa contoh tipudaya yang hina yang telah dilaluinya semasa zaman pembelajarannya dengan sebab kecemerlangan beliau mengatasi rakan pelajar yang setengahnya lebih berusia dari beliau. Sehinggakan salah seorang dari mereka telah mencurahkan keatas muka dan tengkok beliau sebotol campuran peluntur (asid) yang pekat semasa beliau tidur untuk menghalang beliau dari menduduki peperiksaan akhir tahun pengajian, tetapi anihnya, alBanna telah berjaya dalam peperiksaan tersebut. Beliau menganggap itu sebagai ni’mat serta kelebihan dari Allah yang wajib diterima dengan kesyukuran dan kesyukuran pada hemat beliau adalah memberikan kemaafan. “Dan barangsiapa yang memberi kemaafan dan berlapang dada, maka ganjarannya pada Allah”.
 Beliau juga telah membentangkan banyak contoh tipudaya yang hina ini di dalam kehidupannya sebagai penda’wah, juga dorongan kekerasan dari golongan yang mengintip da’wah serta membencinya. Mereka telah melemparkan tohmahan bahawa beliau mengadakan bid’ah di dalam agama, mengendalakan masjid-masjid, memerangi Islam, serta memberikan fatwa dengan batil semasa beliau berusaha untuk melaksanakan sunnah dengan menunaikan solat sunat hariraya di tanah lapang. Begitu juga mereka melemparkan tuduhan-tuduhan terhadap beliau dan al Ikhwan selepas daripada ceramah yang beliau sampaikan tentang Isra’ dan mi’raj dengan menda’wa bahwa ikhwan muslimin menginkari isra’ dan mi’raj serta mengatakan bahwa peristiwa tersebut bukanlah mu’jizat, serta berlaku dengan ruh sahaja tidak dengan badan, lalu mereka telah keluar dari ijma’ umat Islam serta apa yang telah diterima oleh para imam.
 Bahkan ada juga yang menuduh bahwa alBanna menjadi “ilah” yang di sembah oleh al ikhwan. Akan tetapi, pendirian al Banna dalam menghadapi tohmahan-tohmahan tersebut adalah dengan memberikan contoh tauladan melalui amalan secara serius menentang kebatilan–kebatilan tersebut. Beliau berkata: “Sibukkan manusia daripada pemikiran yang salah dengan (memberikan atau mengajar) pemikiran yang benar”. Sebenarnya, alBanna sedar serta yaqin bahawa hakikat berda’wah adalah manusia akan mengata-ngata keatasnya dengan kebatilan.
 Semoga Allah merahmati AlBanna dengan rahmat yang luas serta menyempurnakan ganjaran bagi beliau, juga meneguhkan kita di atas jalan hak dan kekuatan selepas dari pemergian beliau.

38 Kewajiban



  1.  Usahakan agar anda punya wirid harian yang diambil dari kitabulloh minimal satu juz dan berusahalah agar jangan mengkhatamkan Al Qur-an lebih dari sebulan dan jangan kurang dari tiga hari.
 2 Usahakanlah agar anda memperbaiki bacaan Al Qur-an, mendengarkannya dan mentadabburi (merenungi) ayat-ayatNya. Usahakan juga supaya anda mempelajari sekaligus menghayati siroh Rosululloh saw. Dan sejarah para salaf (pendahulu-pendahulu ummat ini) di waktu senggang anda, minimal anda baca buku Humaatul Islam (pembela-pembela Islam) memperbanyak membaca hadits-hadits Nabi Muhammad saw. Setidaknya hafal 40 hadits Nawawi (yang tercantum dalam kitab Hadits Al Arba’in An Nawawiyah) mempelajari dan mengkaji buku yang membahas dasar-dasar aqidah dan masalah-masalah cabang fiqh.
  3.  Bersegeralah melakukan pemeriksaan kesehatan umum dan mengobati penyakit yang sedang menimpa diri anda, memperhatikan kekuatan dan kekebalan tubuh serta menjauhkan diri dari hal-hal yang menyebabkan tubuh lemah.
  4.  Jauhkan diri anda dari berlebih-lebihan dalam kelezatan minum kopi dan the atau jenis-jenis minuman yang meningkatkan (merangsang) gairah, jangan anda meminumnya kecuali dalam keadaan darurat dan jangan sekali-sekali merokok.
  5.  Perhatikan masalah kebersihan dalam segala hal, dalam rumah, berpakaian, makanan, badan dan tempat kerja, sebab agama ini dibangun atas dasar kebersihan.
  6.  Jadilah orang yang selalu jujur dan jangan sekali-kali berbuat bohong.
  7.  Jadilah orang yang selalu setia dengan janji dan jujur dalam ucapan, jangan mengingkarinya walau bagaimanapun kondisinya.
  8.  Jadilah seorang pemberani yang besar tanggung jawabnya dan sebaik-baik bentuk keberanian adalah tegas dalam kebenaran dan pandai menyimpan rahasia, mengakui kesalahan, adil terhadap diri dan mampu mengendalikannya ketika sedang marah.
  9.  Jadilah orang yang memiliki kharisma dan selalu serius dan tidak mengurangi kharisma anda jika diselingi dengan canda yang benar (tidak melampaui batas) dan senyum yang menawan.
10.Jadilah orang yang banyak memiliki rasa malu, perasaannya peka, besar perhatiannya terhadap yang baik maupun yang buruk, merasa senang terhadap kebaikan dan merasa sakit (menderita) terhadap kejelekan. Jadilah orang yang rendah hati, tapi bukan untuk dihina dan selalu menunduk serta jangan sampai harga diri anda diinjak-injak.
11.Jadilah seorang yang adil yang mencerminkan kebenaran hukum dalam setiap situasi dan kondisi, jangan sampai kemarahan anda melalaikan segala kebaikan, keridloan  anda menutupi segala kejelekan, jangan sampai perseteruan atau permusuhan itu membawa anda lupa kepada kebaikan, ucapkan kebenaran walau pahit rasanya, baik terhadap diri anda sendiri maupun terhadap orang yang paling dekat dengan anda.
12.Jadilah anda sebagai orang yang banyak kegiatan atau aktifitas dengan membiasakan  dan melatih melakukan kegiatan yang bersifat umum yang anda akan merasakan kesenangan dan kebahagiaan saat anda bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Anda jenguk yang sakit, membantu kepada yang butuh, mengangkat yang lemah, anda hibur yang terkena musibah walau hanya dengan ucapan yang baik dan usahakanlah selalu untuk bersegera berbuat kebaikan.
13.Jadilah anda orang yang belas kasihan, dermawan, lembut hati, suka memaafkan kesalahan orang lain dan menyayangi sesama manusia, juga kepada binatang sekalipun. Berperilaku dan bermoral yang baik, bergaul kepada semua orang dengan baik dengan tetap menjaga tata aturan sosial yang diajarkan oleh syari’at Islam. Tidak mengintai-intai perbuatan orang lain, tidak menggunjing orang, tidak arogan, dan meminta idzin ketika masuk maupun keluar dari pertemuan dan sebagainya.
14.Tekuni dan kuasai lagi seni baca tulis, dengan memperbanyak membaca buku-buku ikhwan, koran, majalah dan media cetak lainnya. Perkaya wawasan baca anda dengan membuat perpustakaan pribadi walaupun sederhana sekali. Pertajam lagi dan tekuni ilmu serta keahlian yang anda miliki jika memang anda seorang yang ahli. Kuasai benar masalah-masalah keislaman yang bersifat umum yang memungkinkan bagi anda untuk menyebarkan buah pikiran dan sekaligus memberikan suatu hukum syar’i yang sesuai dengan alam pikiran anda.
15.Anda selingi kekosongan waktu anda dengan kerja ekonomis (bisnis) walaupun anda orang kaya, bikin usaha kecil-kecilan yang sifatnya tidak mengekang (bebas) libatkan diri anda dan tekuni masalah-masalah itu walau bagaimanapun ilmu yang anda miliki.
16.Jangan terlalu ambisi untuk memperoleh jabatan di pemerintahan dan anggaplah itu sebagai peluang rizki yang paling sempit. Tetapi jika anda diberi kesempatan maka jangan bener-benar anda tolak dan jangan dilepas, kecuali kalau memang pekerjaan tadi bertentangan dengan kewajiban-kewajiban da’wah.
17.Bersemangatlah dalan menunaikan tugasanda dengan sebaik-baiknya dengan tetap menjaga mutu dan kualitas kerja tanpa harus main suap-suapan dan harus tepat janji.
18.Lakukan dengan cara baik ketika anda menuntut hak bagi diri anda pribadi, tunaikanlah segera hak-hak orang lain dengan sempurna tanpa mengurangi dan minta imbalan apapun dan sekali-kali jangan mengulur-ulurnya.
19.Jauhilah bentuk-bentuk perjudian walaupun ada iming-iming di belakangnya dan tinggalkanlah segala bentuk dan sarana yang haram dalam mencari rezeki walaupun ada untung di belakangnya.
20.Jauhi riba dalam segala usaha dan bersihkanlah benar-benar diri anda dari riba tersebut.
21.Membantu mengembangkan sumber kekayaan Islam yang bersifat umum dengan memotivasi pembangunan pabrik-pabrik dan tempat-tempat industri Islam lainnya. Jagalah selalu walau sepeserpun jangan sampai uang jatuh ke tangan non muslim walau bagaimanapun keadaannya. Jangan anda memakai baju dan memakan makanan kecuali dari buatan negerimu sendiri, yaitu negeri Islam.
22.Sebagian harta anda ikut sertakan dalam kancah da’wah, tunaikan zakat dan simpanlah sebagian harta tersebut untuk anda sumbangkan kepada yang meminta dan yang melarat walaupun penghasilan anda sangat minim.
23.Anda simpan sebagian dari penghasilan itu untuk keperluan-keperluan yang tak terduga walaupun jumlahnya tak terlalu banyak dan sekali-kali jangan berfoya-foya hanya ingin memenuhi kebutuhan sampingan belaka.
24.Berusahalah sekuat kemampuan anda untuk menghidup-hidupkan kembali tradisi Islam dan menghilangkan budaya serta tradisi asing dalam setiap aspek kehidupan. Di antara bentuk-bentuk tradisi tersebut adalah ucapan salam, bahasa, sejarah, pakaian, perabot rumah tangga, jam-jam kerja dan istirahat, makanan, minuman, waktu datang dan pergi, ungkapan sedih dan bahagia serta lain-lainnya dengan memasukkan sunnah Rosululloh saw. Dalam setiap tradisi dan aktivitas tersebut.
25.Tinggalkan dan jauhi mahkamah-mahkamah daerah dan seluruh keputusan hakim yang tidak mencerminkan Islam, lembaga-lembaga dan sekolah-sekolah yang bertentangan dengan fikroh yang selama ini anda yakini kebenarannya. Jauhilah semua itu.
26.Selalu bermuroqobah kepada Alloh Ta’ala mengingat dan sekaligus menyiapkan bekal untuk hari qiamat. Habiskanlah seluruh jenjang kehidupan ini untuk meraih ridlo Alloh Ta’ala dengan cita-cita dan tekad yang kuat. Dekatkanlah diri anda kepada Alloh Ta’ala dengan media ibadah-ibadah sunnah diantaranya adalah qiyamul lail, minimal puasa tiga hari dalam sebulan, memperbanyak dzikir secara lisan dan hati dengan syarat memakai do’a-do’a yang ma’tsur.
27.Kita perbaiki cara hidup bersih dan selalu punya wudlu dalam segala keadaan.
28.Lakukanlah sholat dengan baik dan usahakan terus untuk menunaikannya tepat pada waktunya serta usahakan selalu agar berjama’ah di masjid yang mungkin bisa dilakukan.
29.Berpuasalah di bulan Romadlon, berangkatlah menunaikan ibadah haji jika mampu dan bekerjalah untuk bisa menunaikan ibadah haji tersebut jika saat ini belum bisa melaksanakannya.
30.Usahakanlah selalu untuk punya niatan jihad dan senang meraih syahadah (mati syahid) serta bersiaplah untuk itu dengan persiapan yang matang.
31.Perbaharuilah taubat dan istighfar kepada Alloh, berhati-hati terhadap dosa-dosa kecil apalagi yang besar. Sisihkanlah waktu untuk diri anda sebelum tidur yang di dalamnya anda mengintrospeksi segala apa yang telah anda perbuat selama sehari, dari yang paling baik sampai yang paling jelek sekalipun. Jaga dan manfaatkanlah waktu anda sebaik-baiknya, sebab ia ibarat kehidupan, jangan anda buang sebagian waktu itu untuk berbuat yang tak ada manfaatnya. Serta berhati-hati dalam hal-hal yang subhat sehingga anda tidak terjerumus dalam apa yang diharamkan.
32.Perangilah hawa nafsu anda dengan sungguh-sungguh sehingga anda dapat mengendalikannya,  tundukkan pandangan, tahan perasaan anda, bendunglah gairah seksual anda, carilah yang halal dan yang baik dan bentengilah antara gairah seksual dengan perbuatan haram (zina, dalam hal ini) dengan perbuatan yang halal tadi.
33.Benar-benar jauhilah minuman keras dan yang sejenisnya.
34.Jangan berteman dengan orang-orang yang akhlaqnya bejat dan jelek serta jauhilah tempat-tempat maksiat dan dosa.
35.Berantas tempat-tempat mesum dan berbau maksiat apalagi untuk mendekatinya, jauhilah semua penampilan glamor dan serba mewah.
36.Kenalilah anggota brigade anda satu persatu secara baik dan betul-betul kenal serta kenalkanlah diri pribadi anda kepada mereka dengan baik pula, tunaikanlah hak-hak ukhuwwah mereka sepenuhnya di antaranya dengan rasa cinta, hormat, suka membantu dan itsar. Hadirilah perkumpulan mereka dan jangan sampai tidak hadir kecuali bila ada udzur yang sangat mendesak. Pengaruhilah mereka dengan pergaulan anda yang baik.
37.Putuskan hubungan anda dengan kelompok atau organisasi manapun yang tak ada hubungan dengan kemaslahatan fikroh anda, apalagi kalau hal itu diperintahkan kepada anda.
38.Bekerjalah anda untuk selalu menyebarkan da’wah di setiap tempat, mampu menguasai leadership dengan mengetahui segala kondisi, kekurangan dan kelebihan pribadi anda. Jangan mengerjakakn kerja atau amal yang punya dampak dan kesan yang menyolok kecuali dengan idzin, selalu berinteraksi dengan da’wah anda secara batin dan kerja di lapangan. Ibaratkan diri anda itu seperti seorang perwira dalam sebuah tangsi tentara yang selalu siap menunggu perintah dan komando atasan.